Sasensaki wa Josei Toshi! Chapter 08 (Vol.2)


Chapter 3: Belajar, dan Terhubung

Di kamar tidur kepala biara yang sepi, Alya berguling gelisah di atas kasur.

(……jangan…… jangan lakukan itu……)

Di balik kelopak matanya yang tertutup rapat, adegan yang sama kembali terulang, seperti mimpi buruk yang tak pernah pergi.

『Aku tak butuh orang tanpa bakat sihir di ibu kota! Jangan tunjukin badan kotormu!』

Seorang bangsawan datang dengan janji palsu, lalu tiba-tiba mau mengangkat tangan ke arah Luetta yang sedang berusaha melayani dengan tulus. Jelas sekali, dia hanya sedang bad mood dan ingin melampiaskan amarahnya saja.

『Siswi biara Luetta!』

Seperti hari itu juga, Alya meninggalkan posisinya dan berlari maju. Dia yang berasal dari desa, tak punya bakat sihir, bicaranya kasar. Tapi Luetta tetap baik padanya meski begitu. Alya tak tega melihat sahabatnya diperlakukan seenaknya oleh seorang pria.

『Count Deeb, tolong maafkan! Sekarang saya akan panggil pengganti!』

Alya melangkah ke depan Luetta, cepat-cepat sujud di lantai. Baju yang kotor tanah tak dipedulikannya. Tapi bangsawan itu tak mau mendengar.

『Ngomong sama siapa kau ini! Makhluk menyebalkan yang numpuk di ibu kota!』

Kali ini bukan tangan, melainkan kaki bangsawan itu yang mendekat ke arah Luetta. Alya sudah tak tahan lagi mendengar kata-kata dan sikap itu.

『Makhluk, katamu……』

Di antara para siswi biara, dia sering diperlakukan tak adil, tapi tak pernah menyerah atau balas dendam. Selalu ceria saat berbicara dengan junior-juniornya, membimbing mereka, dan tersenyum lembut. 
Pria yang tak bisa mengendalikan emosinya sendiri, siapa sebenarnya makhluk di sini?

(Ah…… lagi……)

Emosi yang membara kembali terulang di dalam mimpi.

(Jangan, jangan! Itu tidak boleh! Jangan katakan!)

Alya mati-matian berusaha menahan diri versi masa lalunya. Berusaha menahan emosi yang tak terkendali itu.

『Binatang yang hanya mengandalkan sihir. Kaki pendek itu potong saja!』

Tapi di mimpi hari ini pun, Alya masa lalu tetap mengucapkan kata-kata penentu itu.

“Jangan lakukan!!”

Dia tersentak bangun seperti biasa, kembali ke kenyataan. Lalu penyesalan yang dalam langsung menyerangnya, sama seperti kemarin.

“……mimpi…… lagi.”

Ini adalah Seidouin, biara yang dipindahkan sebagai hukuman. Kamar tidur ini terasa seperti penjara baginya. Alya memastikan dua hal itu sambil menghela napas panjang. Di luar masih gelap.

(Ngomong-ngomong, aku tidur mulai kapan ya……?)

Saat mencoba mengingat malam sebelumnya, matanya langsung melebar.

(Iya! Aku dipeluk oleh cowok itu……!!!)

Alya buru-buru bangun dari kasur seperti terguling, lalu bergegas menuju gedung asrama siswi biara.

(Setelah cek kamar-kamar siswi biara, harus langsung ke kamar cowok itu!)

Mungkin dia sedang melakukan sesuatu pada para siswi biara karena Alya telah merepotkannya. Mungkin topeng ramahnya sudah dilepas, memperlihatkan taring beracunnya. Seperti Count Deeb dulu, mungkin sedang menyiksa para gadis……

“Luetta!”

Kamar pertama yang didatanginya adalah kamar Luetta. Tapi berbeda dari prediksi terburuknya, wakil kepala biara itu sedang tidur nyenyak.

“Aristo-sama a…… fuhehe…… baik banget……”

Bahkan sambil mengigau dengan santai.

(Syukur deh. Kayaknya tidak kena kekerasan.)

Setelah memastikan tak ada luka di bagian yang terlihat, Alya pelan-pelan memeriksa kamar siswi biara lainnya. Untungnya, semua siswi biara bernapas tenang dalam tidur mereka. Kamar-kamar juga tidak berantakan.

(Paling tidak aman. Tapi mungkin ada yang lain. Aku harus lihat cowok itu juga.)

Saat para siswi biara belum bangun, Alya diam-diam menuju kamar tamu VIP. Kosong.

(Cowok itu juga tidak ada……?)

Kalau sampai Aristo kenapa-kenapa, akan repot sekali. Kamar terbaik pun diberikan agar menghindari masalah seperti itu.

(Buruk…… lagi-lagi aku bikin siswi biara susah……!)

Perbuatannya sendiri yang menambah jumlah hutang ke ibu kota. Fakta itu masih terus menyiksanya hingga kini.

“……ugh……”

Alya berkeringat dingin sambil berkeliling Seidouin mencari Aristo. Lalu dia menemukannya di tempat yang tak disangka-sangka.

“O-oi……”

Itu ruang pakaian.

“O-oi, lagi ngapain……!?”

Di bawah cahaya batu penyinar kecil, Aristo sedang asyik menulis-nulis di atas tumpukan kertas yang banyak.

“Eh? Iya, lagi gambar desain bra…… eh, Alya-san!?”

Aristo melebar matanya sambil memegang pena, lalu langsung wajahnya khawatir.

“Kamu harus tidur! Baru aja pingsan tadi malam lho.”

Suara pelan tapi agak tegas dari Aristo.

(A-apa……!?)

Alya bingung melihat sikap itu. Mirip sekali seperti Luetta dulu.

『Alya baru pingsan kemarin kan! Hari ini harus istirahat dari kerja!』

Alya tak bisa menatap mata Aristo langsung, lalu melihat sekeliling. Baru dia paham kenapa suaranya dipelankan. Di meja tempat Aristo menulis, dua wanita sedang tidur tengkurap.

“A…… Aristo…… mesum……”

“……Aristo-sama…… ini yang……”

Itu guild master komersial dan maid penghubung yang membantu urusan keuangan. Aristo sengaja berbicara pelan agar tidak membangunkan mereka berdua. Seorang pria yang secara alami melakukan pertimbangan seperti itu, Alya semakin bingung.

“Oi…… beneran gak ngapa-ngapain……?”

Itu saja kata yang bisa keluar dari mulut Alya yang kebingungan. Banyak yang ingin ditanyakan, tapi prioritasnya tetap para siswi biara. Tapi pria bernama Aristo ini malah mengatakan hal aneh.

“Eh sekarang, lagi gambar bra……”

“Bu-ra……? Apa itu?”

Kata asing.

Alya refleks balik bertanya, Aristo agak kesulitan menjelaskan. Susah baginya mengatakan bahwa dia sedang menggambar celana dalam kepada gadis yang jelas-jelas tidak menyukainya.

“Aah iya…… uun……”

Tapi reaksi ragu itu malah membuat mata Alya langsung menyipit.

“Itu sihir rahasia kamu……?”

Aristo geleng-geleng keras, bukan gitu. Karena salah paham yang tak terduga, dia buru-buru menjelaskan situasi.

“Ah, ini barang yang diperlukan buat dagang baru! Makanya ini tanggung jawabku, cari yang bisa aku lakukan, jadilah ini.”

“Tanggung jawab?”

“Ada batas waktu, paling tidak sekarang harus lakukan semua yang bisa dulu, katanya.”

Aristo buru-buru mengambil satu kertas dari tumpukan. Di sana tergambar halus, seperti aksesoris untuk payudara wanita.

“Ini namanya bra. Pakaian dalam wanita baru yang aku lihat di ibu kota, dipakai di dada katanya bagus buat penampilan.”

Alya juga wanita. Dulu saat masih sekolah, dia tidak terlalu tidak suka berpenampilan. Setelah jadi siswi biara, karena posisinya dia membuang perasaan seperti itu……

(Ini……)

Meski begitu, gambar itu langsung terlihat menarik bagi seorang wanita.

“Orang Wime suka barang baru, kainnya juga sedikit. Luetta-san sama Ove-san juga bilang, kayaknya potensial.”

Lanjut Aristo.

“Um, iya! Makanya, karena hanya aku yang tahu bentuknya, aku ingat-ingat macam-macam lalu gambar. Ya, gak terlalu bagus sih. Ahaha……”

Alya yang pernah berada di biara utama ibu kota, ini pertama kalinya mendengar tentang bra. Tapi dia yang sudah membuang minat pada penampilan, tidak terlalu heran. Lebih tepatnya, pertanyaan yang lebih besar memenuhi kepalanya.

“……bukan……”

Setidaknya bentuk ‘bra’ ini tergambar sangat jelas. Polanya agak digeneralisasi, tapi tak bisa dibilang jelek. Wanita Wime yang suka barang baru, hanya dengan ini saja pasti langsung tertarik.

“Ini…… gak jelek kok.”

Alya sebenarnya tak pandai kerajinan tangan. Makanya pujiannya terdengar berlebihan, Aristo langsung berseri-seri.

“Bener!? Iya, dulu temen bikin doujinshi aku gak bisa nolak bantu. Tiap tahun kena tugas, lama-lama dipuji!”

(Do-doujin? Apa yang dia bilang itu?)

Kata yang tak dipahami Alya, Aristo menggaruk kepala.

“Fufu…… seneng deh.”

Wajahnya nyengir agak ceroboh, sama sekali tak ada niat jahat. Alya merasa dadanya berdegup kencang melihat ekspresi tanpa pertahanan itu.

(Cowok ini…… apa sih sebenarnya……)

Pertanyaan Alya semakin bertambah. Tumpukan kertas di sekitar itu, dari tinta yang sudah kering, jelas baru saja digambar.

“Semua ini…… kamu yang gambar?”

Alya bertanya sambil melihat tumpukan seperti gunung itu.

“Ah, iya. Shift malam…… bukan, kerja malam aku sudah biasa.”

Aristo santai saja mengiyakan.

“Lagipula semangat banget. Ya, mungkin karena mesum……”

Bagian terakhir hampir tak terdengar, tapi Alya tetap kaget.

(Segini banyak dalam semalam, katanya? Apalagi ini pakaian dalam wanita……?)

Pria yang tak jijik melihat bokong mereka dari jendela suci sangat jarang. Begitu juga payudara samping dari sabuk suci. Katanya jangan tunjukkan barang kotor, tapi tetap patuh pada ajaran.

(Tapi cowok ini, menggambar pakaian dalam untuk payudara…… kelihatannya malah senang melakukannya)

Bukan hanya itu, Aristo berbicara biasa saja dengan Alya. Bagi Alya yang ingatan tentang Count Deeb masih kuat, ini seperti badai kebingungan.

“Oi…… kamu gak perlu ikut campur urusan dagang kan……?”

Dia tahu perintahnya adalah diam saja selama sebulan. Alya bilang begitu, Aristo malah menjawab hal aneh lagi.

“Eh iya, tapi ini diperlukan buat dagang baru. Makanya aku yang gambar, karena hanya aku yang tahu bentuknya.”

“……”

Alya diam sebentar. Pria ini, benar-benar tidak paham situasi atau bagaimana. Tapi Alya yang dingin tak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya melihat gambar bra karya Aristo, sambil berpikir dalam hati.

(Ini…… mungkin benar-benar bisa jadi dagang baru)

Dia tak suka pria, tapi kalau untuk biara, mungkin bisa dimanfaatkan. Alya menarik napas dalam, lalu pelan berkata.

“……teruskan aja. Tapi jangan sampai siswi biara melihatnya.”

Mata Aristo langsung berbinar.

“Iya! Makasih Alya-san!”

Alya melihat wajah senang itu, entah kenapa dadanya berdegup lagi.

(Cowok ini…… benar-benar aneh)

Tapi mungkin, tak seburuk yang dia kira. Alya memutar badan, pelan keluar dari ruang pakaian. Tapi di ambang pintu, dia berhenti sebentar.

“……jangan overwork. Kamu juga tamu di sini.”

Kata kecil itu dia ucapkan, lalu pergi. Aristo yang tertinggal di ruangan, nyengir sendiri.

(Alya-san…… mulai mencair nih kayaknya)

Dia melanjutkan menggambar bra, dengan semangat yang baru..

Tentu saja, Alya sudah tahu bahwa itu hanyalah strategi bodoh dari bangsawan yang mengusir Aristo. Karena itulah, pemandangan di depan matanya saat ini benar-benar membuatnya tak percaya.

(Apa yang sedang terjadi……!?)

Kepala biara es yang terkenal dingin dan tak tergoyahkan itu, kini hanya terlihat seperti gadis biasa yang kebingungan total. Di sisi lain, Aristo mulai menunjukkan dokumen-dokumennya satu per satu kepadanya dengan semangat membara.

“Yosh! Eh, ini rencana yang dibuat Olivia. Ini prediksi keuangan dari Kate-san! Tolong dilihat, ya……”

Alya tak bisa menahan diri untuk memuji gambar-gambar desain itu. Sikap Aristo tak sekeras yang dia bayangkan sebelumnya, malah penuh antusiasme yang tulus. Aristo menganggap pujian itu sebagai kesempatan emas untuk mempromosikan idenya lebih jauh. Baginya, bisnis celana dalam dan bra ini sudah bukan lagi urusan orang lain; ini sudah menjadi mimpi bersama.

“Sebentar lagi prototipe akan jadi. Bentuknya masih sedang kita bahas detailnya.”

“Ah, iya……”

“Luetta-san dan Ove-san bilang bahwa Kepala Biara Alya juga paham betul soal gaya dan mode. Makanya, tolong tunjukkan langsung ke kepala biara, ya.”

“I-iya……”

Alya merasa tertekan oleh semangat Aristo yang membara itu. Akhirnya, dia menerima tumpukan kertas sambil membaca isinya dengan seksama. Di sana ada sketsa kasar beserta gambar prototipe, lengkap dengan coretan-coretan koreksi yang menunjukkan proses diskusi panjang.

“Ada harapan yang mungkin terlalu berlebihan, tapi aku benar-benar ingin berusaha. Tentu saja kita mulai dari kecil dulu. Uangnya juga aku keluarkan dari kantong pribadi! Tolong pertimbangkan baik-baik”

Tiba-tiba Aristo sadar bahwa mata Alya melebar karena kelelahan. Dia segera menyadari kesalahannya telah memaksa di tengah malam.

“Eh, maaf sekali! Kepala Biara Alya harus istirahat. Luetta-san juga pasti khawatir kalau tahu!”

Bagi Alya, permintaan maaf Aristo yang tulus itu sangat mirip dengan sikap Luetta yang lembut. Saat menyadari kemiripan itu, mulutnya bergerak sendiri tanpa izin.

“Kenapa……”

“Eh?”

Setelah membaca dan melihat semuanya, Alya akhirnya yakin pada satu hal penting: Aristo bukan makhluk jahat sama sekali.

(……kalau ada yang jahat, itu bangsawan yang mengusir dia ke sini.)

Karena itulah, dia tak bisa menahan diri untuk bertanya.

“Kamu…… tak marah, ya……?”

Baru saja diasingkan, malah diusir ke biara terpencil seperti Seidouin. Tapi bukannya dendam, Aristo justru khawatir padanya sebagai kepala biara, bahkan rela begadang hanya untuk menggambar desain celana dalam. Semua tentang pemuda ini benar-benar melebihi batas pemahaman Alya.

“Kamu sebenarnya…… apa, sih……?”

Dia bertanya sambil setengah bengong, suaranya pelan. Aristo tersenyum, teringat bahwa di dunia asalnya dia hanyalah “binatang langka” seorang mesum yang selalu kalah dengan nafsu bawahnya.

“Biasa saja,…… bukan. Cuma Agak aneh. cukup payah, sih.”

Tapi dia segera melanjutkan dengan nada serius.

“Aku ingin mendekat sedikit saja. Seperti Kepala Biara Alya dan Luetta-san yang membuka jalan sendiri di dunia ini…… aku ingin belajar dari kalian.”

Di ruang pakaian yang remang-remang malam itu, hanya suara Aristo yang bergema lembut.

“Makanya aku bukan marah, malah senang sekali bisa datang ke sini. Aku berpikir begitu.”

Mata Aristo saat mengucapkan itu penuh dengan rasa hormat yang tulus kepada Alya, pandangan yang membuat dada Alya berdegup kencang tanpa alasan jelas.

“…………!”

Pandangan hangat itu kembali membuat jantung Alya berdegup lebih cepat. Rasa kesemutan manis yang asing, yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, menyebar di seluruh tubuhnya hingga membuatnya bingung sendiri.

“Apa yang kamu tahu tentangku! Jangan sok tahu……!”

Karena panik, kata penolakannya terdengar lemah, tak meyakinkan.

“Ah! Ma-maaf…… aku kelewatan……”

Aristo langsung minta maaf dengan cepat dan tulus. Melihat itu, kepala Alya semakin penuh kebingungan.

(Tolong jelaskan…… cowok ini sebenarnya apa, sih……!)

Dia tak ingin alur pembicaraan terganggu lebih jauh lagi. Merasa dalam bahaya, Alya buru-buru menjawab untuk mengakhiri malam itu.

“……nanti aku dengar penjelasan lengkap dari Luetta juga. Aku akan pertimbangkan dengan serius.”

Mendengar itu, Aristo langsung mengangkat kepala. Suaranya kembali cerah, mukanya berubah seperti anak kecil yang baru saja melihat langit cerah setelah hujan panjang.

“Terima kasih banyak! Aku senang sekali…… ini untuk kebaikan semua orang……”

Tapi kegembiraan itu tak bertahan lama.

“Oi……!”

Tiba-tiba tubuh Aristo limbung. Dia duduk di kursi dan langsung tertidur pulas, napasnya teratur seperti dua gadis yang sudah lebih dulu terlelap di sampingnya.

(……orangnya ribet banget……)

Alya melirik rencana di tangannya sekali lagi. Tak mungkin Aristo menulis semuanya sendirian, tulisan tangan yang berbeda-beda membuktikan banyak orang terlibat. Dan di antara coretan itu, ada tulisan tangan yang sangat dia kenali.

“……Ove dan Luetta…… ya.”

Luetta dan Ove terlihat begitu bahagia belakangan ini. Siswi biara yang sudah lama tak tersenyum kini mulai kembali ceria. Kalau bisnis ini sukses, bagaimana ya ekspresi mereka nanti?

(Saat itu, aku……)

Harus memasang muka seperti apa?

“……kenapa kamu bisa santai begitu di depan cewek. Kamu ini……”

Alya bergumam pelan pada wajah Aristo yang damai dalam tidur. Dia pelan-pelan berbalik dan keluar dari ruang pakaian. Gumamannya yang terakhir sangat kecil, hingga tak terdengar oleh siapa pun.

────────────────

Beberapa hari setelah obrolan malam antara Aristo dan Alya, waktu berlalu dengan cepat.

“……jadi begini.”

Sore itu, di ruang pakaian yang diterangi sinar senja, Ove meletakkan bra yang baru selesai dijahit di atas meja. Beberapa siswi biara langsung berkumpul, mata mereka berbinar-binar penuh antisipasi.

“““Wah……!”””

Serentak, mereka mengeluarkan suara kagum. Ove melirik Luetta yang berdiri di dekatnya.

“……gimana?”

“Bagus sekali! Aku pikir ini benar-benar bagus banget!”

Luetta, sebagai wakil kepala biara, langsung mengambil beberapa bra yang sudah berjejer rapi dan memeriksa tekstur kainnya dengan teliti.

“Iya! Halus banget. Kayaknya nyaman dipakai, gak akan sakit.”

“……kemarin kamu bilang jahitannya masih agak kasar, jadi aku ubah sedikit. Tambah sedikit elastis biar lebih fleksibel.”

Ove menjelaskan sambil mengambil salah satu sketsa dari tumpukan kertas desain Aristo, lalu menunjuk bagian tertentu dengan jari telunjuknya.

“……ini ‘hook’ di punggung juga sudah aku pasang. Di kamar kita ada contoh mirip, kan?”

“““Wah~!”””

Mereka kembali kagum. Para siswi langsung berebut memegang prototipe dan memeriksa setiap detail kecil dengan antusias.

“Hasilnya luar biasa……! Akhirnya Ove yang menyelesaikan finishing paling sempurna, ya.”

“Kita fokus ke jahitan bagian bawah dan pola kertas sebagai persiapan produksi. Ove, setuju?”

Salah satu siswi berkata begitu. Luetta mengangguk setuju, dan Ove hanya mengangguk kecil.

“……iya. Aku oke saja.”

Suara Ove datar seperti biasa, tapi Luetta tahu ada sedikit kebahagiaan tersembunyi di baliknya, pipi Ove sedikit mengendur, tanda dia sedang senang.

(Ini benar-benar bisa jadi barang dagang. Syukurlah……)

Bra dari dunia lain ini mendapat izin produksi cepat dari Alya yang sudah pulih total. Tak hanya itu, Alya juga mengizinkan beberapa siswi biara lain membantu selama tak mengganggu tugas harian. Makanya ruang pakaian kini ramai dengan siswi selain Luetta dan Ove.

“Tapi Kepala Biara Alya bilang kita jangan terlalu dekat dengan Aristo-sama……。 Ada apa, ya?”

Perubahan sikap Alya membuat para siswi bingung besar.

“Entahlah. Kebenciannya pada cowok kayaknya masih sama……”

“Tapi kali ini aku juga ikut kesel. Katanya Aristo-sama hanya tinggal di sini sebulan saja……”

Mereka langsung paham maksud tersirat di balik peringatan itu.

“Kayak menganggap kita binatang lapar yang siap menerkam gitu. Langsung nyerbu sambil ngiler.”

“Walaupun Kepala Biara Alya melarang, aku sendiri niat tak mau dekat-dekat, kok.”

“Iya, iya,” mereka mengangguk serentak. Tapi Ove diam-diam berkeringat dingin.

(……aku sudah nekat tempel payudara ke dia……)

Dia sudah resmi jadi “binatang” di mata dirinya sendiri.

“Ya, kita juga mikir peringatan itu agak kasar, sih.”

Luetta ikut-ikutan risih, tapi para siswi tak sadar dan lanjut mengobrol dengan semangat.

“Tapi…… kalau lihat Aristo-sama langsung, agak…… gimana gitu, ya?”

“Ganteng banget, kan…… baik juga.”

“Aku lebih suka cowok yang berisi dan berotot……。 Tapi Aristo-sama beda level, deh.”

Satu siswi pipinya memerah saat berkata.

“Sebenarnya, waktu aku tak pakai veil, pernah ketemu mata sama dia.”

“Eh! Pasti dimarahin dong?”

“Cuma saling bilang 『Selamat pagi』 doang. Tapi hari itu aku tak bisa fokus kerja sama sekali…… ”

Kyaa~ suara mereka naik penuh kegembiraan remaja.

“Sekarang kita bisa ikut proyek dagang bareng dia. Rasanya kayak mimpi.”

“Wakil kepala biara, apa Kepala Biara Alya juga diam-diam suka Aristo-sama, ya?”

Luetta tersenyum mendengar gosip itu.

“Mungkin tidak……”

Dia menjawab begitu, tapi dalam hati sadar bahwa Alya memang agak berubah belakangan ini. Apa yang membuat Alya tiba-tiba mengizinkan siswi lain ikut, Luetta sendiri belum tahu pasti.

“Iya, ya. Kepala biara kelihatan sedang susah sekali. Kalau dia bisa sedikit lebih santai, pasti lebih baik.”

Satu siswi menghela napas panjang.

“Iya. Makeup-nya makin tebal akhir-akhir ini. Aku pengen kita lebih diandalkan sama dia.”

Mereka semua mengenal Alya sejak dulu, sebelum dia dijuluki “kepala biara es”. Senyum lembut penuh kasih sayangnya waktu itu adalah sumber kebanggaan bagi semua siswi.

“Entah kenapa, kepala biara sekarang terasa jauh sekali……”

“Iya…… dia sudah lama tak tersenyum lagi.”

Ove juga setuju sepenuhnya. Karena itulah dia berkata pelan.

“……sekarang, fokus ke bra dulu.”

Dia percaya bahwa proyek bra inilah yang bisa menyelamatkan biara sekaligus mengembalikan senyum Alya.

“Iya!”

Para siswi paham perasaan Ove dan mengangguk tegas.

“Ngomong-ngomong, bra ini aku baru pertama kali dengar.”

“Iya, kan! Majalah Wime juga kayaknya tak pernah ada yang bahas.”

Mereka terus memeriksa prototipe dengan antusias. Ove akhirnya ikut membuka mulut.

“……dia pinter, tapi juga pekerja keras banget. Aku kaget bagian yang itu.”

“““Iya banget!”””

Luetta mengangguk setuju. Sebelum siswi lain ikut membantu sungguhan, kerja Aristo sudah terlihat gila, begadang terus demi menyempurnakan desain.

(Semua ini berkat Aristo-sama……)

Pertama kali melihat gambar desain, Luetta langsung kaget dengan jumlah dan variasinya. Dari yang menutupi banyak sampai yang minim sekali, setiap sketsa bikin jantung berdegup lebih cepat. Mereka tak tahu namanya, ada yang mirip bustier, bikini ketat, sampai desain yang biasanya hanya muncul di konten dewasa terlarang.

“……dia bilang hampir semua desain itu murni dari imajinasinya. Tapi waktu jelasin, mukanya agak lemas.”

“Lemas?”

Satu siswi memiringkan kepala penasaran. Luetta tersenyum kecil.

“Kerja sampai larut malam terus-menerus. Wajar kalau capek, kan?”

Kata itu langsung membuat para siswi terharu.

“““Gitu, ya……!”””

Padahal sebenarnya lain. Di dunia asalnya, Aristo tak punya pengalaman cinta sama sekali, tapi bentuk-bentuk bra mesum sudah hafal di luar kepala. Itu semua “hasil” dari 28 tahun hidup jadi perjaka, mukanya sedih waktu mengakui di depan Luetta dkk.

“Ini benar-benar imut, ya. Cuma nutup bagian bawah payudara saja, tapi gaya banget.”

“Katanya namanya 『Nipple cover』. Di kota besar ada yang mirip, katanya.”

“Dari mana dia tahu hal-hal gitu, ya. Anak bangsawan memang pinter.”

Mereka senang sekali saat mengambil salah satu prototipe yang paling berani: open cup bra yang cup-nya terbuka total, ditambah nipple cover yang hanya menutup puting saja. Desain malam iseng Aristo kini sudah jadi nyata di tangan mereka, meski Aristo sendiri belum tahu.

“……Aristo-sama memang luar biasa. Kayaknya dia lebih paham tubuh cewek daripada cewek sendiri.”

“Cara jual dan toko sudah direncanakan matang. Aku kaget.”

“Paham pasar banget……。 Rumor toko roti Olivia pasti benar. Mereka berdua usaha keras.”

“Aura mereka berdua juga bagus banget. Olivia-san baik sekali.”

“Olivia-san yang paling keras usahanya, jadi Aristo-sama kasih hadiah spesial……”

“Ah, mikir mesum! Rim-sama bakal marah, loh?”

“Rim-sama sendiri yang izinin mikir mesum, kok!”

Luetta mendengar keramaian mereka sambil melirik dokumen di tangan. Di sana sudah ada rencana rute penjualan, desain tas belanja, sampai mekanisme pemesanan pribadi untuk ukuran khusus.

“……benar-benar luar biasa…… Aristo-sama.”

Luetta tahu Olivia dan Kate banyak membantu, Kate hebat di urusan keuangan, Olivia jago strategi penjualan. Tapi kunci utama tetap Aristo.

Dia selalu aktif meminta pendapat dari semua orang di sekitar, karena dia sadar dirinya masih asing dengan dunia ini, baik soal dagang maupun tubuh cewek.

『Luetta-san, menurutmu gimana? Aku pikir bagus, tapi mata cowok kayak aku tak terlalu percaya diri.』

『Eh…… celana dalam biasa diganti berapa lama sih? Boleh ajarin……? 』

Pendapat kecil dari situ terus diasah menjadi lebih baik. Siklus positif itu Luetta saksikan langsung setiap hari.

“Kalau gitu, hari ini kita cukup sampai di sini.”

Malam sudah sangat larut. Luetta mengumumkan bubar. Para siswi yang sedang menyiapkan prototipe berikutnya mulai merapikan alat jahit dengan rapi. Saat itu, satu siswi angkat bicara.

“Akhirnya besok, ya, Ove, wakil kepala biara.”

Luetta dan Ove langsung tegang mendengarnya.

“……iya. Kita yang ditunjuk.”

“Beneran harus jelasin langsung, ya!”

Besok mereka berdua akan menunjukkan prototipe terbaru kepada Aristo untuk konfirmasi akhir. Memang tugas kerja, tapi tatapan para siswi lain penuh iri yang tak disembunyikan.

“Iri banget……!”

“Aku juga pengen ditunjukkan langsung sama Aristo-sama!”

“Kalau bisa, pengen dicek detail banget. Disentuh payudaranya gitu…… ”

Mereka belum tahu bahwa Aristo pernah menghisap puting Ove sampai cekungnya hampir keluar. Jadi fantasi itu masih terlarang. Luetta lembut tapi tegas menegur.

“Semuanya, agak mesum, lho.”

Mendengar wakil kepala biara berkata begitu, mereka hanya tehehe ketawa sambil merapikan barang.

“Kalau gitu, wakil kepala biara, aku permisi duluan.”

“Ove, aku duluan, ya!”

“Capek banget hari ini!”

Satu per satu mereka kembali ke kamar masing-masing. Obrolan ringan mereka perlahan menghilang di koridor. Ruang pakaian kini hanya tersisa Luetta dan Ove dalam keheningan.

“……”

Mereka diam cukup lama. Akhirnya Ove yang membuka mulut lebih dulu.

“……tegang sekali.”

“I-iya. Aku juga deg-degan berat.”

Luetta menjawab jujur. Besok mereka harus ke kamar Aristo yang masih terasa asing. Wajar kalau takut salah sopan.

“Bisa…… gak, ya…… kita melakukannya dengan baik?”

“……kita latihan dulu saja.”

Tapi ketegangan mereka bukan hanya karena sopan santun.

Mereka berdua sama-sama geliat gelisah memikirkan besok. Tiba-tiba pintu ruang pakaian yang sudah tertutup terbuka kembali.

“Ara ara. Kalian berdua sudah siap total, ya♪”

“Lebih kayak tak sabar menunggu besok, deh.”

Yang muncul adalah Kate dan Olivia, keduanya tersenyum nakal. Mereka langsung memeriksa prototipe dengan serius sebentar, lalu kembali ke mode “cewek” biasa.

“Benar-benar ini yang akan kalian tunjukkan besok?”

“Ah, iya! Ove yang pakai sebagai model, aku yang jelasin detailnya.”

“Bagus sekali. Kasih penjelasan mendetail ke Aristo, ya. Dia pasti perhatikan banget setiap bagian.”

Sampai di situ masih terdengar seperti guild master profesional. Tapi setelah itu, Kate ikut berubah nada jadi lebih genit.

“Belajar kemarin sudah kalian review ulang benar-benar?”

Dua siswi biara langsung mengangguk cepat, wajah memerah.

“L-latihan jepit pakai payudara…… benar-benar kami lakukan berulang-ulang!”

“……aku juga.”

Mereka berdua merogoh kantong baju, mengeluarkan benda kaku buatan sendiri yang bentuknya mirip....tapi jauh lebih kecil dari punya Aristo.

“Pakai ini…… kami latihan itu……”

“……berulang-ulang.”

Melihat “alat latihan” kasar itu, Olivia terkekeh lepas.

“Pasti besok kalian sudah gak puas lagi pakai yang kecil gitu. Cari yang asli baru, deh.”

“Eh?”

Luetta belum paham. Kate melanjutkan dengan senyum lebar.

“Walaupun begitu, kalian berdua pernah diam-diam mengintip kamar tidur kami, kan? Kalian berpotensi besar, lho.”

“Kemarin juga datang diam-diam, ya? Duh…… rajin banget belajar sendiri.”

Luetta dan Ove langsung gemetar hebat, wajah panik.

“It-itu……! Um……!”

“……S-salah. Itu kebetulan saja……”

Alasan klasik mereka langsung ketahuan. Olivia dan Kate menggoda sebentar, lalu ekspresi mereka melunak.

“Aristo baik, ganteng, baunya enak. Perasaan kalian pasti paham, kan?”

“Olivia sekarang sudah gila-gilaan sama dia. Padahal awalnya bilang ‘anak babi’.”

“Bukan gitu, kok……”

“Beda?”

“Be…… beda, sih.”

Teringat malam kemarin saat Olivia mengerang seperti binatang liar, pipinya memerah. Tapi dia cepat sadar dan kembali fokus ke dua siswi biara.

“Akhirnya besok kalian main beneran. Malam ini kita ajarin layanan intens dulu, ya.”

Mendengar kata “layanan intens”, tenggorokan Luetta dan Ove langsung bergerak menelan ludah.

“La-layanan intens……!”

“……pengen tahu caranya.”

Kate tersenyum lembut tapi penuh godaan.

“Iya. Kalau kalian lakukan dengan benar, pasti Aristo-sama senang sekali.”

Lalu Olivia melanjutkan dengan nada menggoda.

“Aristo-sama kalau lagi bahas celana dalam atau bra sering langsung excited. Tapi tak selalu kita ada di sampingnya.”

Keduanya mendengar dengan serius, mata tak berkedip.

“Agar mood Aristo-sama tak terganggu kapan saja, sekaligus kalian jangan minta terlalu banyak, etika penting banget. Kalian adalah siswi biara pertama yang mendapat kesempatan belajar ini. Jangan lupa, ya.”

Luetta dan Ove mengangguk mantap. Olivia melanjutkan.

“Aristo baik hati, langsung sungkan kalau digoda berlebihan. Makanya teknik layanan harus diasah supaya dia cepat mood. Begitu kontolnya masuk, cewek sudah tak bisa menang lagi.”

“Iya. Kalian akan dipakai sepuas hati Aristo-sama, dia kan sedang sibuk banget.”

“Aristo mungkin akan sering bolak-balik ke biara nanti. Kalian harus jadi cewek yang pantas untuk dia.”

Kata “dipakai” itu langsung membuat selangkangan Luetta panas membara.

Ove teringat saat puting cekungnya hampir keluar karena hisapan Aristo, tubuhnya otomatis merinding nikmat.

“Kalau gitu, untuk persiapan besok main beneran…… yuk kita belajar malam ini♪”

Harapan bercampur takut, tapi nafsu mereka sudah naik sampai puncak.

“Iya……!”

“……minta diajarin dengan benar.”

Malam itu, Luetta dan Ove menerima “pendidikan khusus” cabang Seidouin, kelas “Pasukan Pengen Di entot”. Dan Aristo baru merasakan hasil latihan intens mereka keesokan paginya.

“Eh! Sudah jadi semua!?”

Pagi buta, aku langsung kaget mendengar pengumuman Olivia dan Kate-san.

“Aku baru kasih gambar desain tambahan kemarin lusa, kan?”

Setelah mendapat lampu hijau, aku makin semangat menggambar bra dengan variasi sebanyak mungkin. Tujuannya satu: supaya cewek-cewek dunia ini bisa menemukan bentuk yang paling mereka sukai.

“Dua hari saja sudah cukup, katanya. Aristo kayaknya tak percaya, ya.”

Olivia tertawa lebar melihat mataku melebar karena kaget. Memang dia pernah bilang kemampuan Ove-san luar biasa, tapi aku tetap tak percaya, bra asli barang asing bagi mereka, bisa selesai secepat itu. Referensi hanya gambar amatir buatanku.

“Tak nyangka benar-benar jadi dalam dua hari…… kaget banget.”

Kate-san tersenyum lembut sambil menepuk bahuku.

“Jahitan tangan diajarkan serius sejak sekolah biara. Siswi lain juga cukup mahir.”

Aku baru sadar kalau pelajaran tata busana di biara ini levelnya jauh di atas bayanganku. Jahitan tangan mereka lebih rapi daripada mesin modern di dunia asalku.

“Celana dalam, baju, tas, semua diajarkan lengkap. Ada lomba tahunan.”

“Hee…… luar biasa.”

Dan di antara semua, kemampuan Ove-san paling menonjol.

“Kecepatan, akurasi, dan sensitivitasnya…… pasti dia tukang jahit terbaik di wilayah ini.”

“Riona, Ove, Aristo memang jago menemukan cewek berbakat, ya.”

Aku hanya bisa tersyukur atas keberuntunganku. Tapi tak hanya Ove-san yang hebat.

“Olivia dan Kate-san juga luar biasa, lho.”

Rencana keuangan dan strategi penjualan yang konkret selesai dengan cepat berkat mereka. Rasanya seperti bekerja sama dengan sales profesional dan akuntan jenius.

“Fufu♪ baru sadar sekarang?”

“Dipuji Aristo-sama, kami merasa terhormat sekali.”

Keduanya tersenyum imut, lalu melanjutkan.

“Tapi yang paling tetap desain Aristo. Itu benar-benar bagus.”

“Siswi biara semua terpaku waktu lihat. Fufu, tentu saja aku dan Olivia juga.”

“Cewek mana yang tak tergoda melihat desain begitu.”

Aku tak menyangka gambar amatirku mendapat pujian sebesar ini. Memang aku usaha mati-matian, tapi kebaruan konsep bra yang membuat mereka takjub, pikirku.

“Aristo-sama jago banget menggambar, ya.”

“Jumlahnya banyak, setiap bentuk bagus semua. Begadang terus, kita sampai berebut pilih mana yang dijadikan prototipe dulu.”

Dipuji langsung oleh dua cewek cantik seperti mereka, aku senang sekaligus malu sampai telinga panas.

(Tapi tak nyangka suatu hari aku dipuji gara-gara gambar bra……)

Di dunia asal, jarang sekali cewek memujiku. Waktu di Rethea lebih fokus ke bisnis desperate. Gabungan dua pengalaman itu membuatku bisa mengeluarkan potensi maksimal.

(Ini juga semacam 『mesum high』, ya.)

Semua memori konten dewasa dunia asal kutuangkan ke sketsa-sketsa itu. Bisa “high” karena bahan baku tak terbatas, aku sendiri kaget sekaligus tertawa dalam hati.

(Tapi kalau semua cewek suka, itu sudah lebih dari cukup.)

Aku bersandar santai di sofa, menikmati rasa puas yang hangat. Olivia langsung duduk di sisi kiri, Kate-san di kanan.

“Sebentar lagi Luetta dan Ove datang untuk jelasin prototipe. Aristo siap?”

Olivia bertanya dengan muka khawatir. Kate-san ikut menambahkan.

“Begadang terus akhir-akhir ini, badan masih oke? Kalau capek, kita tunda besok juga tak apa.”

Memang aku begadang parah. Tapi kemarin full libur, tak ada “sharing informasi intens” jadi hari ini kondisi tubuhku prima.

“Iya, sama sekali oke. Istirahat sudah cukup.”

Lagipula tugasku hanya konfirmasi formal. Yang penting semua cewek puas dengan hasilnya.

“Pengen lihat muka senang Luetta-san dan Ove-san.”

Aku tersenyum lebar. Keduanya ikut tersenyum lembut.

“Fufu♪ pasti Aristo juga akan suka.”

“Kalau ada yang ingin ditanyakan lebih detail, jangan sungkan, ya.”

Tepat saat itu, pintu diketuk pelan.

“Ah, sudah datang.”

Olivia berkata. Dari balik pintu terdengar suara Luetta-san yang lembut.

“Kami bawa prototipe. Aristo-sama, boleh masuk?”

Aku penasaran desain mana yang akhirnya mereka pilih jadi prototipe pertama.

“Silakan masuk!”

Aku menjawab dengan suara cerah. Kate-san membuka pintu. Keduanya masuk dengan gerakan lincah, berdiri di depanku, lalu membungkuk hormat. Karena sudah dengar harapanku, Luetta-san kali ini tak memakai veil penutup wajah.

“Selamat pagi.”

“……selamat pagi.”

Salam singkat selesai.

“Langsung saja, ini prototipe yang sudah jadi!”

Luetta-san berkata penuh semangat sambil menunjuk ke arah dada Ove-san dengan bangga.

“!? ”

Aku langsung melotot, kaget sampai berdiri dari sofa.

“……gimana, Aristo-sama?”

Ove-san bertanya dengan nada khawatir, suaranya pelan. Tapi yang menghias dada besarnya adalah prototipe paling mesum yang pernah kugambar: black open cup bra.

Cup-nya benar-benar terbuka, tak ada sehelai kain pun yang menutupi payudara. Tipe ekstrem yang hanya meninggalkan rangka tipis hitam mengelilingi bawah dada.

(Nipple cover juga sudah dibikin sempurna!? )

Ditambah lagi, puting yang tadinya tersembunyi kini ditutupi nipple cover berbentuk berlian mengilap. Areola Ove-san yang lebar sedikit meluber dari tepi cover, membuatnya terlihat semakin erotis.

(……tak nyangka desain ini yang mereka pilih……)

Memang aku pernah menggambarnya. Tapi itu hanya imajinasi liar, desain yang kupikir paling tak mungkin diproduksi duluan. Aku taruh di tumpukan bawah karena terlalu berani untuk dunia ini.

(Efek tensi malam iseng waktu gambar……)

Desain yang kukira mustahil kini dipakai langsung oleh cewek cantik di depanku. Pemandangan mesum itu membuatku terpana total. Luetta-san suaranya semakin khawatir.

“Eh…… Aristo-sama, tak suka, ya……?”

Wajar dia khawatir. Sejak salam tadi aku diam membisu, hanya menatap dada Ove-san tanpa berkedip.

(Buruk! Harus segera bilang!)

Keduanya pasti mengira prototipe ini tak disukai. Bahkan Ove-san yang biasanya datar mulai kelihatan cemas.

“T-tidak……?”

Tak mungkin kubiarkan salah paham! Aku panik, akhirnya berteriak keras.

“Sama sekali tidak! Gila…… ini bagus banget!!”

Penilaianku kasar dan langsung, tapi cukup membuat keduanya langsung berbinar.

“Bener!? ”

“……bener?”

Aku mengangguk-angguk berkali-kali seperti anak kecil. Olivia dan Kate-san di samping ikut menenangkan.

“Sudah kubilang, kan. Kemarin juga Aristo bilang dia suka desain ini.”

“Iya. Cocok banget. Seragam biara juga sudah dimodifikasi, lho?”

Kate-san bertanya. Luetta-san mengangguk besar penuh bangga.

“Ove yang mengerjakan.”

Seragam biara mereka awalnya memiliki ‘sabuk suci’ tebal yang menutup puting dan areola sepenuhnya. Tapi di seragam Ove-san sekarang, sabuk itu sudah dilepas total.

“……『nipple cover』 sengaja dibuat agar terlihat jelas.”

Bandingkan dengan seragam Luetta-san yang masih standar, perbedaannya mencolok. Open cup bra hitam mengilap, nipple cover berlian, ditambah areola besar yang sedikit meluber, tak ada lagi penghalang. Pemandangan paling erotis yang pernah kulihat.

“Memang. Kalau tak melanggar ajaran agama, mungkin boleh dijadikan varian seragam biara resmi.”

Olivia memuji pertimbangan cerdas mereka. Aku dalam hati bertepuk tangan keras.

(Kerja mereka luar biasa……!)

Tubuhku gemetar karena terharu dan excited sekaligus.

“Kalau gitu, Aristo-sama, silakan duduk kembali.”

Aku nurut kata Luetta-san dan kembali duduk di sofa. Dia langsung memulai presentasi detail dengan percaya diri.

“Langsung saja kita jelaskan bahan dan teknik jahitannya secara rinci, ya.”

Bagian ini penting untuk produksi massal nanti. Aku berusaha tegas pada diri sendiri: jangan terpana terus sama payudara Ove-san.

“Ove, maju ke depan Aristo-sama.”

“……iya.”

Ove-san melangkah pelan hingga berdiri tepat di depanku. Payudaranya yang hanya ditutupi nipple cover kecil itu bergoyang lembut setiap langkah, membuatku menelan ludah.

(Wah…… terlalu dekat!)

Jaraknya kini hanya beberapa puluh senti. Sedikit saja aku condong ke depan, wajahku sudah bisa tenggelam di lembah dalam yang hangat itu. Aroma bunga dari tubuhnya yang baru mandi pagi menyelinap masuk ke hidungku, semakin membuat kepala pening.

“Mulai dari bahan dasar, ya.”

Luetta-san menggunakan tubuh Ove-san sebagai model hidup untuk menjelaskan.

“Bahan yang melingkar di bawah dada sama seperti celana dalam biasa. Tapi jahitannya aku ubah supaya lebih lembut.”

Ove-san mengangkat kedua payudaranya sendiri dengan tangan, membantu Luetta-san menunjukkan bagian sabuk. Gerakan itu membuat payudara besarnya semakin menonjol ke depan, puting yang hanya ditutup berlian kecil itu seperti menantang tepat di depan mataku.

(I-ini…… gila……)

Kulit putih mulusnya yang lembut terlihat begitu jelas. Kontolku langsung bereaksi keras.

“Jahitan kujadikan lebih halus supaya tak mengiritasi kulit. Teknik ini tak terlalu sulit.”

Luetta-san terus menjelaskan dengan tenang. Ove-san mengangkat payudaranya lebih tinggi lagi agar detail jahitan terlihat, pose yang sama sekali tak berbeda dengan godaan erotis terencana.

(Uwaa…… harus fokus dengar penjelasan!)

Tapi panas di selangkanganku tak mau reda, malah semakin membesar.

“Supaya lebih kuat menyangga, aku pakai kain double layer yang agak tebal”

Tepat saat aku berusaha keras berkonsentrasi.

“Wah!? ”

Kontolku sudah keras maksimal, menegang di dalam celana.

“Tebal…… ah, sudah panas sekali……”

“Fufu, cukup keras juga, ya.”

Tangan Kate-san dan Olivia bergerak cepat bagai kilat, sudah melilit kontolku dari luar celana.

“Tu-tunggu──!?”

Aku berusaha protes, tapi tangan mereka tak berhenti sama sekali.

“Waah……!”

Gerakan mereka lincah dan terlatih. Dalam sekejap celana sudah terbuka, kontol keras langsung terbebas dan berdiri tegak menempel perut. Olivia dan Kate-san tersenyum genit dari dua sisi.

“Sedang serius ngomong kok sudah begini…… tak boleh, lho.”

“Aristo-sama, serahkan saja kepada kami, ya.”

Malam-malam sebelumnya reaksi spontan seperti ini selalu kami sambut dengan gembira. Tapi ini pagi hari, lagi presentasi kerja. Apalagi Luetta-san dan Ove-san ada di depan!

“Kalian berdua!? Ove-san dan Luetta-san masih ada disini……!”

Aku panik berusaha menutup, tapi mereka tak peduli.

“Di depan Ove-san dan Luetta-san malah tambah besar, ya.”

Olivia menggoda sambil mulai mengocok pelan. Kate-san tak ikut handjob, dia malah berbisik lembut.

“Permisi dulu.”

Rambut panjangnya diselipkan ke belakang telinga, lalu wajah cantiknya mendekat ke selangkanganku.

“Sluuurp……!”

Mulut panas Kate-san langsung menelan kontolku hingga pangkal dalam sekali hisap.

“Ke-Kate-san…… tunggu! Ah……ahh!”

“Slurp! Slurp! Sluuurp……!”

Kamar langsung penuh suara oral mesum yang basah. Tangan Olivia melilit dari akar sampai buah zakar, mengocok dengan ritme sempurna.

“Fufu……”

“Ah! Guh…… ahh!”

Nikmat yang datang bertubi membuatku tak tahan. Tubuhku otomatis condong ke depan, mencari sandaran.

“Uwaa…… !? ”

Wajahku langsung tenggelam di lembah payudara Ove-san yang lembut tapi kencang.

(Payudara Ove-san……!)

Aroma manis tubuhnya membungkus wajahku sepenuhnya.

“Eek……!”

Ove-san tersentak kecil karena ulahku yang tiba-tiba, tubuhnya loncat ringan. Aku mendengar jerit kecilnya, buru-buru ingin angkat muka untuk minta maaf, tapi belakang kepalaku tiba-tiba ditekan kuat dari belakang.

(Ove-san……!? )

Dia memeluk kepalaku erat-erat, mengurung wajahku di antara payudara besarnya yang hangat.

“……”

Ove-san tak bicara apa-apa, sama seperti hari dia biarkan aku menghisap putingnya sampai puas.

“Fuh…… fuh…… ”

Tapi napasnya yang terengah jelas bukan napas biasa, ini napas cewek yang sedang terangsang.

(Ini……!)

Sisa akalku masih mendengar suara Luetta-san yang kini sangat kecil dan gemetar.

“La-langsung…… boleh sentuh untuk cek kualitasnya, ya……”

Kalimat itu belum selesai, hisapan Kate-san sudah bertambah ganas.

“Slurp! Slurp! Slurp……!”

Di telinga kiriku, Olivia berbisik genit.

“Aristo, kerja Ove-san dan Luetta-san bagus, kan? Suka gak desain bra-nya?”

Tentu saja tak mungkin aku tak suka.

“Uh, iya…… suka banget……!”

Aku mengangguk-angguk dengan wajah masih terkubur di payudara Ove-san.

“……”

Ove-san tak bersuara, tapi tubuhnya gemetar hebat. Dia tak menegur ulahku yang kurang ajar. Olivia melanjutkan godaan.

“Kalau suka, kasih hadiah spesial ke mereka berdua, dong?”

Tangan kananku yang tadinya memegang payudara Ove-san diambil Olivia pelan-pelan, lalu digerakkan lebih dalam lagi hingga benar-benar meremas lembut.

“…… Ah……”

Rasa payudara Ove-san meledak di telapak tanganku. Olivia memanggil keduanya dengan nada menggoda.

“Nah, kalian berdua. Hadiah seperti apa yang paling pengen dari Aristo-sama? Bilang jujur.”

“……”

Ove-san diam sebentar, lalu perlahan melepas tekanan di belakang kepalaku.

“I, iya……”

Luetta-san menjawab dengan suara kecil sekali, tapi dia sudah bergerak mendekat hingga aku bisa melihat wajahnya yang memerah hebat. Sekaligus itu, hisapan Kate-san jadi lebih pelan dan menggoda.

“Slurp…… Slurp…… Slurp……”

Ruangan tiba-tiba hening sesaat. Lalu, di keheningan itu, suara dua siswi biara yang penuh nafsu bergema jelas.

“……ejakulasi Aristo-sama…… pengen disiram semua.”

“Saya juga…… pengen disiram banyak……”

Tubuhku langsung gemetar hebat.

(Tak tahan lagi!)

Tak pernah kubayangkan siswi biara suci akan memohon hal begitu terang-terangan padaku. Nafsu membakar seluruh tubuhku. Kontolku berdenyut keras di dalam mulut panas Kate-san.

“Npu! Chu…… chuuu……!”

Layanan maid kelas atas, Kate-san mengencangkan hisapan tepat di saat kontolku paling tegang. Olivia kembali berbisik manis di telinga.

“Mereka bilang begitu, lho.”

Hadiah untuk siapa sudah tak jelas lagi. Otakku pening antara bingung dan nikmat. Tapi semua itu lenyap tertutup nafsu murni.

“A-aku keluarkan sekarang……!”

Tenggorokanku bergerak mengangguk keras. Luetta-san dan Ove-san langsung berlutut di depan kakiku, condong dari dua sisi hingga empat payudara besar mereka mengurung kontolku dari segala arah.

Kate-san memberikan hisapan kuat terakhir.

“Slurp! Chuu…… haa……”

Lalu kontolku dilepaskan dari mulut panasnya. Olivia dan Kate-san berdiri, entah kenapa berpindah ke belakang sofa, meninggalkan aku sendirian dengan dua siswi biara yang sudah siap total.

“Ah……”

Rasa sepi sesaat, tapi segera diganti hangat empat payudara yang kini menjepit kontolku dari segala sisi.

(Double paizuri…… tak nyangka hari ini aku bisa rasakan!)

Payudara cantik, montok, dan kencang dari Luetta-san dan Ove-san mengelilingi kontolku sepenuhnya. Aku terpana nikmat. Keduanya langsung mulai bergerak serentak, menggosok kontolku dengan irama lembut tapi penuh gairah.

“……a…… fuu…… ahh……”

“N! Aristo-sama, apa saya…… jago……? ah……!”

(Jago atau tidak…… sudah jelas!)

Jawabanku hanya satu.

“Payudara kalian berdua…… enak banget……!”

Di sisi kanan, payudara Ove-san yang besar dan hanya ditutupi nipple cover berlian menggosok kontolku dengan lembut tapi kuat. Napasnya terengah, kulitnya panas, setiap gosokan membawa nikmat yang dalam sekaligus rasa hangat yang sulit dilukiskan.

Di sisi kiri, payudara Luetta-san yang tak kalah besar dan montok menjepit dari arah lain. Dia sesekali mengangkat payudaranya sendiri agar gosokannya lebih pas.

“Ah! Aristo-sama ……saya jago tidak……? ahh……!”

Dia bertanya lagi dengan suara manja, tapi aku tahu dia tak perlu khawatir. Empat payudara sempurna ini sudah lebih dari cukup untuk membuatku tak tahan lagi.

Gerakan mereka semakin cepat, semakin rapat, semakin membara. Kontolku berdenyut keras di antara kelembutan payudara yang menjepitnya, sudah di ambang ledakan.

Payudara Luetta-san yang menggosokku dari atas terasa penuh dan berat, tidak kalah dengan punya Ove-san. Lembut, lengket, dan putingnya yang mengeras menjepit tepi kepala kontolku dengan kuat. Rasanya... luar biasa.

“Jago sekali kalian berdua... haa... enak banget,” desahku jujur, tanpa bisa menahan diri.

Punggungku menempel pada sesuatu yang lembut, tubuh Olivia dan Kate-san yang memelukku dari belakang.

“Senang ya, Aristo?” kata Olivia sambil tersenyum.

“Latihan kami akhirnya berbuah hasil,” tambah Kate-san dengan nada puas.

“Iya, Aristo. Keluarkan dulu banyak-banyak, ya. Setelah itu kita ngobrol santai,” ujar Olivia lembut.

“Iya, Harus akrab dulu,” Kate-san menyambung.

Dari kata-kata mereka, aku langsung sadar, semua ini sudah direncanakan sejak awal. Mereka tahu aku sangat menyukai payudara Ove-san. Sekali lagi, aku kagum pada kecerdasan mereka.

“Ah... aah... nn!” Luetta-san mendesah keras. Payudaranya tetap menempel erat, putingnya yang tegang digosokkan ke batang kontolku, jelas dia juga sedang menikmati sendiri.

(Wajah Luetta-san... terlalu mesum untuk gadis sekurus itu...)

Payudara yang biasanya tersembunyi di balik baju biara ternyata menyimpan hasrat begitu besar. Aku tak tahan lagi. Jari-jariku menyelinap ke balik sabuk suci yang menutupi putingnya.

“Ah!? Aristo-sama! Di situ!?”

Aku menggeser sabuk itu ke samping dengan paksa. Areola pink cerah dan puting yang sudah mengeras langsung terlihat. Hanya dengan itu saja, Luetta-san sudah mengerang keras.

“Aah! Ah! Aah!”

Ternyata putingnya sangat sensitif. Aku semakin bersemangat. Tanganku berpindah ke payudara Ove-san, langsung mencopot salah satu nipple cover yang memikat itu.

“...!”

Ove-san langsung menggoyang pinggulnya karena stimulasi mendadak. Tapi aku ingin mendengar suaranya. Jadi aku menggali areolanya tanpa ragu.

“A……!!”

Seperti yang kuharapkan, desahan mesum Ove-san bergema di ruangan. Tubuhnya mengejang, tapi payudaranya tetap tidak lepas dari kontolku.

“Haa… haa…”

Saat itu, dari balik kain penutup wajah bawahnya, mulut Ove-san terlihat sekilas. Bibir tebalnya menganga, air liur menetes tanpa malu. Meski begitu, dia tetap mati-matian menggoda kontolku, seolah tak bisa menahan kenikmatan.

“O-Ove… mau keluar…?”

Luetta-san yang melihat teman dekatnya orgasme terhenti sejenak, terkejut. Tentu saja aku tak membiarkannya berhenti. Jari-ku langsung menggali putingnya lagi, kali ini mencubitnya kuat.

“Ah!? Aaaaah!”

Payudara Luetta-san bergetar hebat. Dia mengerang keras hingga sofa ikut bergoyang. Wajah polosnya meleleh dalam kenikmatan, pemandangan yang benar-benar tabu.

(Ini... tidak boleh dilihat cowok lain…!)

Rasa posesif yang kuat membuat kontolku semakin membesar. Saat itu, suara Olivia terdengar lagi.

“Nah, kalian berdua. Jangan hanya menikmati sendiri. Layani Aristo dengan benar.”

“Iya… ha… iya…!”

“……iya……!”

Payudara keduanya langsung menjepit lebih rapat. Serangan ganas dimulai lagi.

“Aristo-sama……! Aristo-sama……!”

“……N! Fuu!”

Precum yang melimpah menjadi pelumas alami. Tarian payudara mereka semakin genit, membuatku hampir gila.

“Ah! Su-sugoi…!”

Aku melengkung tak tertahankan.

“Fufu, nikmati banyak-banyak ya, Aristo.”

“Keluarin banyak, ya.”

Olivia dan Kate-san berbisik di telingaku, lalu...

“Lick! Slurp…”

Suara mesum serentak mereka menjilat kedua telingaku.

“Aaah!”

Tubuhku menggeliat. Mereka memelukku erat, tak memberiku kesempatan kabur. Melihatku mengerang lemah, payudara keempatnya bergerak semakin ganas.

“N! Aristo-sama… semakin panas…! Payudaraku berguna, kan!?”

“……Aristo-sama, mau enak pakai payudaraku…?”

Dari akar hingga kepala, kontolku dikelilingi lautan kelembutan. Mereka menggosok ke arah berlawanan, kadang puting keras mereka menggesek lubang kencing atau tepi kepala…

“Aah! gak tahan lagi… mau keluar…!”

Kata itu keluar begitu saja. Seketika semua mempercepat serangan.

“Haa! Haa! Aristo-sama mau ejakulasi ya!”

“……mau disiram… mau!”

““Chuu! Chuu! Chuuu!””

Telingaku dipenuhi suara mesum. Kontolku terbenam dalam lautan payudara. Rasa di pangkal semakin naik, pinggulku otomatis terangkat.

“Kasih saya! Ejakulasinya!”

“Aristo-sama! Tunjukkan…!”

Desahan kedua siswi biara menjadi penutup. Aku akhirnya mencapai puncak.

“Keluar!!”

Spurt!! Spurt!! Spurt!!!

Sperma melimpah menyiram kedua siswi biara itu.

“Haan!”

“……luar biasa……!”

Luetta-san dan Ove-san mengerang puas. Dua gadis yang hidup di tempat suci… kini begitu bahagia disiram cairan putih keruh dariku.

(Terlalu mesum…!)

Pemandangan itu memuaskan hasrat jantanku sepenuhnya.

“Belum selesai, ya kalian berdua.”

“Iya!”

Atas perintah Olivia, payudara mereka kembali bergerak ganas.

“Ah!”

Kontolku yang baru saja lemas langsung diserang lagi. Kepala yang sensitif terasa terlalu tajam.

“Lagi… mau keluar lagi!!”

“……kasih…”

“Aristo-sama!”

Desahan mereka mendesak. Aku kembali meledak.

Spurt!!! Spurt!! Spurt!!!

““Aah!””

Hujan sperma kedua kembali mengotori tubuh mereka. Payudara Luetta-san dan Ove-san seolah rakus menyerap semua cairan itu, sambil mengerang bahagia.

“Haa! Senang sekali, Aristo-sama… payudaraku yang biasa saja bisa sebanyak ini…”

“N…… haa…… panas sekali……”

Di tengah empat payudara, sperma menumpuk hingga kontolku tak terlihat lagi.

(Banyak sekali…)

Luetta-san lalu menunduk, mulutnya menyentuh genangan sperma itu.

“Lick…… lick……”

“Eh!?”

Dengan wajah polos yang mekar nikmat, dia mulai menjilatnya. Tak lama, Ove-san juga menjilat sperma di payudaranya sendiri.

“Lick lick…… sperma Aristo-sama…… enak……”

Tingkah mereka sama sekali tak seperti gadis suci yang melayani dewa, malah seolah kontol dan spermaku yang menjadi dewa mereka.

Melihat itu, kontolku yang seharusnya lelah justru kembali tegang. Olivia dan Kate-san yang lebih paham dariku berbisik manja.

“Aristo, masih bisa kasih hadiah lagi, kan?”

“Aristo-sama, tolong berikan rahmat pada keduanya juga.”

Tenggorokanku bergerak menelan ludah. Olivia melanjutkan,

“Kalian berdua, seperti yang sudah diajarkan, ya♪”

Mendengar itu, Luetta-san dan Ove-san bangkit dengan langkah sedikit goyah, mungkin sisa orgasme tadi. Mereka berjalan menuju kasur besar.

Tanpa bicara, keduanya membalikkan badan dan merangkak di atas kasur.

“!!”

Mereka mengangkat bokong tinggi-tinggi. Dari celah seragam biara, selangkangan mereka terlihat jelas.

“Aristo, kamu gak suka?” tanya Olivia menggoda.

Aku bahkan tak sempat menjawab. Mataku sudah terpaku pada dua bokong indah itu.

“Haa… haa…”

“……n!”

Keduanya menurunkan kain tipis yang menutupi bagian paling penting. Suara “Splash” terdengar, benang bening cinta menetes dari tengah.

(Wah…!)

Aku pusing karena hasrat. Keduanya kembali menggoda.

“……tolong, ya……”

Mereka membuka tempat paling rahasia itu dengan kedua tangan. Seragam biara yang tadinya menutupi bokong kini hanya menjadi bingkai godaan sempurna.

“! ……!!”

Aku tak lagi bisa berpikir. Hanya naluri jantan yang menguasai, aku melompat ke arah kedua bokong itu.

────────────────

Kamar tamu VIP di Seidouin memang disediakan untuk tamu pria, tapi belum pernah ada pria sungguhan yang menginap. Aristo adalah tamu pertama.

Dan kini, dia juga menjadi tamu pertama di kamar yang jauh lebih istimewa: kamar pribadi Luetta.

“……ah!”

Luetta yang sudah melepas seragam biaranya terlentang di kasur, kaki terbuka lebar menyambutnya.

“Aristo! Sama! Ah! Aah!”

Memek sempit yang serasi dengan tubuh mungilnya menjepit kontol Aristo dengan kuat seolah secara naluriah ingin memeras semua sperma.

“Aaah……!”

Tubuh putihnya memerah karena kenikmatan. Aristo mengerang nikmat.

“Enak sekali… memek Luetta-san…!”

Dia terus menekan rahim Luetta dengan kontol yang semakin keras. Gadis itu menunjukkan kenikmatan dengan seluruh tubuhnya, punggung melengkung, cairan cinta menyemprot, kaki gemetar, pinggul bergoyang ingin lebih dalam lagi.

(Kontolku dihisap semua…!)

Aristo menahan ejakulasi dengan susah payah, lalu membalas dengan piston ganas.

“Ah! Ah! Aristo-sama! Tidak! Terlalu dalam!”

Memeknya digali tanpa ampun. Luetta tak lagi bisa berbicara benar, hanya mengerang, tapi dia menerima semuanya dengan bahagia.

(Ini… kontol Aristo-sama…!)

Sejak pertama melihat ketampanan dan kebaikan Aristo, jauh lebih luar biasa daripada gambar di buku terkenal di Wime, Luetta sudah terpikat.

(Ini… sex sungguhan…!)

Dia teringat malam ketika diam-diam mengintip kamar tamu VIP. Melihat Aristo bercinta ganas dengan Olivia dan Kate-san, mereka mengerang seperti binatang, seolah melihat surga di dunia.

“Ah! Aaaah! Terlalu dalam! Aristo-samaa!”

Dan kini, itu benar-benar surga baginya.

“Haa! Haa! Luetta-san, enak? Tidak sakit?”

“Enak! Enak sekali! Aku… kayaknya akan gila!”

Ditepuk lembut sambil memeknya digali ganas.

(Memekku enak gila sama kontol Aristo-sama!)

Kenikmatan menjalar ke seluruh tubuh. Akalnya meleleh. Luetta menyerahkan diri sepenuhnya pada gelombang nikmat itu.

“Aah, mau keluar! Aristo-sama! Aku mau keluar… keluar…!”

Luetta selalu kompleks dengan hasrat mesumnya, siswi biara yang begitu mesum terasa memalukan. Tapi Aristo mengizinkannya, bahkan memintanya.

“Bagus! Keluarkan saja!”

“Ah! Aristo-sama!”

“Aku ingin lihat Luetta-san keluar…!”

Luetta merasa diselamatkan. Cowok paling luar biasa di dunia ini menerima tingkah mesumnya.

(Aah……!!)

Hatinya terbuka lebar, begitu juga memeknya yang menjepit semakin kuat.

“Keluarr… keluar keluar! Pakai kontolmu buat aku keluar!”

Akhirnya, Luetta orgasme dari lubuk hati yang paling dalam.

“Ah! Aaaaah! Memekku keluarrrrr!”

Tubuh mungilnya kejang keras di kasur. Punggung melengkung tinggi, cairan cinta menyemprot, memeknya menggoda kontol semakin kuat, bukti bahwa sarang madunya benar-benar telah mekar menjadi wanita sejati.

(Uwah……! Bahaya, aku juga hampir…)

Aristo terpikat oleh memek Luetta yang belajar dengan cepat. Biasanya dia sudah keluar sekarang, tapi kali ini ada alasan dia bisa bertahan.

“Aku… tadi keluar sendirian depan Aristo-sama… malu…”

Luetta masih menikmati sisa orgasme, kakinya terbuka lebar tanpa malu.

Di atasnya, hidangan lain sudah menunggu.

“Ove, jangan cuma lihat saja…”

Ove-san yang sudah melepas seragam biaranya bertumpu pada tubuh Luetta, bokong montoknya dijulurkan tepat di depan wajah Aristo.

“……Luetta, luar biasa ya,” ujar Ove-san.

“!? ~~!!”

Tiba-tiba suara binatang keluar dari mulutnya. Memeknya ditusuk kontol yang masih keras.

“Maaf! Aku sudah tak bisa berhenti!”

Aristo merobek selaput dara Ove-san dengan kasar, tapi pinggulnya tetap ganas.

“! Oh! !”

Ove-san yang biasanya terlihat kurang emosi kini mengerang keras penuh kenikmatan.

(Suara Ove-san… tak tahan! Ingin dengar lebih banyak!)

Aristo semakin dalam dan kuat.

“! N ooh! Ooh!”

Punggung Ove-san melengkung nikmat setiap kali ditusuk. Payudara besarnya bergoyang hebat, bahkan dari belakang terlihat jelas.

(Payudaranya… gila sekali…!)

Aristo tak tahan lagi, kedua tangannya meremas payudara itu, menggali puting cekung yang sensitif.

“Haa……! Haa……!”

Nafas Ove-san memburu. Akhirnya dia sendiri yang mulai menggoyang pinggul.

“! ! ! N hoo!”

Tidak seperti pertama kali, Ove-san rakus mengejar kenikmatan. Dia menabrakkan pinggulnya ke Aristo, memek tebalnya mengurut kontol dengan ganas.

“Ugh! Ah! Ove-sa…… ua!”

Serangan mendadak membuat Aristo mengerang, menempel erat pada payudara Ove-san.

“Aaah!”

Sambil piston ganas, jari Aristo menggali putingnya dalam-dalam.

“ Ah!? ”

Nikmat mulut rahim ditusuk. Nikmat puting yang ngaceng digali.

(Ah! Suara nakal keluar…)

Dua kenikmatan sekaligus cepat membawa Ove-san ke puncak.

“ Oh! ”

Suara itu sudah bukan suara gadis, melainkan suara betina.

“~~~~! Hoo……”

Ove-san mati-matian menahan suara keruhnya. Dia takut Aristo kecewa. Tapi bagi Aristo, justru itu pemandangan terbaik.

“Ove-san! Haa! Haa…… terbaik!”

(!??)

Kata lembut itu membuat Ove-san terhenti sejenak. Tapi hasrat yang sudah membuncah tak bisa dibendung lagi.

“Haa! ……haa!”

“ A!??!  !  ”

Kontol yang akan ejakulasi menjadi semakin ganas.

“Ah uh! Oh hoo!”

Tubuh Ove-san meloncat, refleks ingin kabur. Tapi Aristo tak mengizinkan.

“Pengen lebih……!”

Dia memegang kuat payudara Ove-san, menarik tubuhnya mendekat. Jantan yang panas itu menusuk betina hingga ke dasar.

“Aah ah!”

Pandangan Ove-san memutih total. Nikmat menyelimuti dirinya. Suara Aristo bergema.

“Keluar di dalam memek Ove-san, terima ya! Jadilah milikku……!”

Kontol yang sudah menjelajahi dua sarang madu menjadi lebih buas dari biasanya. Dan Ove-san menyukai kata-kata itu.

(Aku jadi milik Aristo-sama……!)

Di hatinya kata itu terukir. Tapi suara yang keluar tetap jeritan betina.

“Tolong jadikan aku milik Aristo-sama"

Dinding memek menjepit kuat, payudara bergoyang ganas. Gadis berkepang tiga yang pendiam kini menggoda habis-habisan.

“Iya! Iya……!! Sudah jadi milikku……!”

Nafsu jantan Aristo yang seperti anak kecil akhirnya terpuaskan.

“Iku! Ah! Iku! Iku Lagi!”

Jeritan mesum Ove-san semakin keras.

“Keluar……!”

Akhirnya ledakan itu tiba.

Spurt!!! Spurt!!! Spurt!!

Memek Ove-san diwarnai putih. Pada saat yang sama, kenikmatannya meledak hebat.

“Oh! I…… guuuuh! ”

Sperma yang menghantam mulut rahimnya memberikan orgasme tambahan yang luar biasa pada Ove-san.

“Hoo! Keluar! Keluar keluar! Keluarrrrr!”

Suara yang bahkan dia sendiri belum pernah dengar sebelumnya keluar dari mulutnya. Ove-san kejang berulang-ulang. Itulah momen ketika gadis pendiam itu benar-benar jatuh, menjadi wanita sejati, lalu betina yang rakus.

“……jepitnya gila……!”

Kontolku dijepit amat kuat. Aku membakar pemandangan itu ke dalam mata dan ingatan.

“~~~~! ……!”

Tubuh Ove-san akhirnya ambruk karena kenikmatan yang terlalu hebat, dia pingsan.

Dan yang menangkap tubuhnya…

“O-Ove……”

Adalah Luetta-san yang masih terlentang di bawahnya, baru saja orgasme. Merasakan tubuh teman dekatnya yang panas dan lemas jatuh ke pelukannya, Luetta-san berpikir dalam hati.

(Sex… luar biasa sekali…)

Tapi dia tidak sempat lama-lama tenggelam dalam pikiran itu.

“Ah!?”

Kakinya yang hampir tertutup kembali dibuka dengan kasar.

“Lu-Luetta-san juga……!!”

Kepala kontol yang masih panas mendadak menabrak mulut rahimnya.

“Eek!”

Kenikmatan yang datang tiba-tiba membuat kepala Luetta-san kosong sejenak.

(Ko-kontol!? Masuk lagi!?)

Tapi sarang madunya langsung mengerti situasi. Memeknya otomatis menyedot kontol cowok yang dicintainya itu.

“Masih keluar!!”

Ke dasar memek Luetta-san yang masih basah kuyup, aku melepaskan sperma yang mendidih.

Spurt!! Spurt!!

“Ah uh!? Ah! Aaaaah!”

Kontol yang belum puas hanya di memek Ove-san kini mengeluarkan sperma untuk menaklukkan Luetta-san juga. Gadis mungil itu sama sekali tidak punya cara untuk melawan.

“Ini… ejakulasi dalam!? Aah! Kena! Terlalu dalam uuh!”

Spurt spurt, sperma terus menghantam bagian terdalam. Tubuhnya meloncat-loncat tanpa kendali. Luetta-san akhirnya memeluk erat tubuh Ove-san yang ada di atasnya.

“Ah! Aaaah! Mau keluar! Aku keluar karena sperma!”

Sambil memeluk teman dekatnya, Luetta-san menyerah total pada kenikmatan. Pemandangan itu membuatku semakin bersemangat.

“Luetta-san juga… jadi milikku ya……!”

Kata yang keluar tanpa sengaja itu terdengar seperti kabar terbaik dari surga bagi Luetta-san.

(Aku juga… milik Aristo-sama!)

Memeknya seolah menghubungkan hati dan tubuh secara langsung, menjepit dan menyedot kontolku bahkan sebelum otaknya mengizinkan.

“Haa! Iya! Aku milik Aristo-sama!”

“Iya……!”

Sambil terus ejakulasi, aku menusuk dasar memeknya dengan yang ganas. Benturan keras hingga ke rahim langsung melempar Luetta-san ke orgasme berikutnya.

“~~~~! …… ha……!”

Orgasme hingga sesak napas. Orgasme terbaik yang pernah dirasakannya terus digantikan yang lebih hebat lagi. Dan kebaruan itu membangunkan insting wanita yang selama ini tertidur dalam dirinya.

“Aristo-sama! Ah! Aaaah!”

Memek rakus yang tersembunyi di balik wajah polosnya akhirnya benar-benar meminta sperma.

“Memek Luetta-san… enak gila……!”

Gerakan mesum yang lengket terus menggoda kontolku. Luetta-san yang membuka hati dan tubuhnya sepenuhnya membuat darahku semakin mendidih.

“Lagi…… mau keluar lagi!!”

Spurt spurt!!!!

“Aristo-samaaaaa!”

Luetta-san kembali diwarnai putih dari dalam. Setiap denyut kontolku seolah mengubah tubuhnya menjadi milikku sepenuhnya.

“Ah…… haa……!”

Sambil menikmati sisa kenikmatan, Luetta-san memahami itu dengan jelas.

“Aku… milik Aristo-sama……”

Itu adalah kebahagiaan sejati baginya, sumpah yang murni dan tulus.

“Ah……”

Akhirnya Luetta-san juga memeluk Ove-san erat-erat, lalu ikut pingsan.

“Haa…… haa……”

Sementara itu, aku juga sudah sangat kelelahan. Sekaligus menggali dua memek dan mengeluarkan sperma hingga memuaskan keduanya.

(Enak… banget……!)

Rasa lelah yang menyenangkan setelah keluar banyak membuatku tenang sejenak. Tapi di saat yang sama, sedikit penyesalan menyelinap.

(“Jadilah milikku” apa sih tadi itu……)

Di tengah panasnya sex memang terdengar keren, tapi sekarang terasa memalukan sekali. Aku mengusap keringat di dahi, menyesali kata-kata berlebihan itu.

“Eh?”

“Um, Aristo-sama…”

Tapi aku lupa satu hal. Dua gadis yang masih mengeluarkan aroma mesum itu sedang menatapku, aku yang baru saja menjadi binatang buas.

“Aku ini… milik siapa ya……?”

Yang mendekat sambil perlahan melepas bajunya adalah Olivia. Dan di belakangnya, Kate-san sudah telanjang bulat.

“……aku juga penasaran sekali.”

Dua wanita cantik itu naik ke kasur dengan langkah penuh godaan. Aku langsung panik.

“E, eeh……”

Aku buru-buru menurunkan Luetta-san dan Ove-san dengan hati-hati agar mereka bisa tidur nyenyak. Kedua gadis yang sudah terlelap itu segera diberi selimut hangat oleh Olivia dan Kate-san.

“Sekarang bisa ngobrol pelan-pelan, ya.”

“Iya.”

Lalu dengan senyum mesum, mereka perlahan menempelkan tubuh telanjang mereka padaku.

“Ya, milik siapa? Aku ini.”

“Aristo-sama…… n!”

Tubuh panas telanjang mulai menggosok mesum. Pipiku terasa membakar. Aku akhirnya membuka mulut.

“Mi-milikku……!”

Ekspresi malu-malu itu justru sepenuhnya merebut hati kedua wanita cantik itu.

“Chu! Chuu! Slurp!”

Kontolku yang masih berlumur sperma dan cairan cinta segera masuk ke mulut Kate-san dengan cepat. Tangan kananku menyentuh selangkangan Kate-san, sementara bibirku mulai bertukar air liur panas dengan Olivia.

“Aristo…… ajari aku juga bahwa aku milikmu……”

“Aristo-sama! aku juga, pengen diajarin banyak-banyak……!”

Akhirnya, hari itu...

“U, iya! Ngerti……!”

Kontolku hampir tak punya waktu untuk beristirahat lagi.

Kamu sudah CROT 0 kali

Comments

Fitur komentar buatan sendiri:
Semua fitur sudah jalan: post, reply (nested), edit, delete, upload gambar, badge level, username custom permanen.

Panduan Membaca

 1. Cara Memulai Membaca Novel

  • Buka chapter novel yang ingin kamu baca.
  • Cari "box" atau tombol bertuliskan "Mulai Baca", "Start Reading", atau ikon play/play button (biasanya berbentuk kotak besar di tengah atau bawah cover novel).
  • "Klik box tersebut" untuk langsung baca.
  • Jika ada popup iklan, tutup saja (klik tanda X) dan lanjutkan.

 2. Menghilangkan Blur pada Gambar

  • Saat membaca chapter, jika ada "gambar ilustrasi" yang blur (kabur), cukup "klik langsung pada gambar tersebut".
  • Blur akan hilang secara otomatis, dan gambar akan tampil jelas full resolution.
  • Tips: Klik sekali saja, jangan zoom dulu agar proses lebih cepat.

 3. Menghilangkan Blur pada Teks/Cerita

  • Jika "teks chapter" terlihat blur atau sebagian kabur, "klik pada area teks" (paragraf atau kalimat yang blur).
  • Blur akan hilang, dan teks menjadi jelas untuk dibaca.
  • Alternatif: Scroll sedikit ke bawah lalu klik lagi pada teks jika masih ada bagian yang blur.
  • Jika seluruh chapter blur, coba klik di tengah-tengah layar atau pada judul chapter.

Nikmati baca novelnya! Kalau ada saran atau chapter favorit, komentar di bawah chapter masing-masing. Happy reading!